Selasa, 04 Juli 2017

Facebook Memperbaharui Algoritma Untuk Memberantas Hoax Dan Clickbait

Berita palsu (hoax) dan konten jebakan (clickbait) memang cenderung share di sosial media seperti facebook hanya demi keuntungan semata. Karena mudahnya membagikan suatu situs yang berisikan berita hoax ke jejaring sosial. Kini facebook memiliki cara baru untuk mengantisipasi konten bermasalah berisi spam, berita bohong, dan clickbait, yang diikuti dengan langkah Memperbaharui algoritma News Feed untuk mengurangi jangkauan konten bermasalah itu dari tampilan News Feed.

Facebook Memperbaharui Alogaritmanya Dalam Memberantas Berita Hoax Dan Clickbait

Facebook telah melakukan penelitian dan menemukan ada sekelompok kecil pengguna yang terlalu sering posting tautan, atau secara rutin mempublikasi konten dalam jumlah besar, dan dinilai telah menyebar spam ke News Feed pengguna lain.

Adam Mosseri selaku wakil presiden Facebook yang mengurusi News Feed berkata, bahwa konten atau tautan yang dibagikan oleh pengguna semacam ini cenderung berkualitas rendah seperti sensasionalisme, clickbait, dan berita bohong.

Facebook akan mengidentifikasi pengguna semacam ini, dan mengurangi distribusi tautan yang dibagikannya di jejaring sosial. Penelitian kami selanjutnya menunjukkan bahwa tautan yang mereka bagikan cenderung mencakup konten berkualitas rendah seperti clickbait, sensasionalisme, dan informasi yang keliru.

Akibatnya, kami ingin mengurangi dan memberantas pengaruh penyebar spam dan tidak memprioritaskan tautan yang mereka bagikan. Adam Mosseri, Vice President Product Management Facebook Itu berarti konten atau tautan yang dibagikan oleh pengguna yang seperti ini, bakal dibatasi jangkauannya untuk mencapai pengguna yang lebih luas. Langkah ini dilakukan Facebook untuk memperbaiki News Feed dan menampilkan lebih banyak artikel yang informatif atau menghibur.

Pembaruan algoritma ini dikatakan Mosseri hanya berlaku untuk link atau artikel individual, bukan ke domain, Halaman, video, foto, check-in, atau update status. Sebagian besar penerbit dijanjikan juga tidak akan merasakan perubahan yang signifikan terhadap distribusi konten atau tautannya di News Feed. Kepada Recode, Mosseri menjelaskan bahwa pihaknya tidak melihat lagi konten dari link yang dibagikan oleh pengguna super aktif ini.

Mereka yakin korelasi antara pengguna yang terlalu sering unggah dengan konten spam cukup kuat, sehingga Facebook merasa tidak perlu lagi melakukan pengecekan konten dari link. "Ini adalah salah satu sinyal terkuat yang pernah kami temukan untuk mengidentifikasi berbagai konten bermasalah," ucap Mosseri, dikutip.

Pengubahan algoritma ini merupakan salah satu dari banyak perubahan yang telah dilakukan Facebook, dalam enam bulan terakhir untuk menekan peredaran konten berita palsu di News Feed. Karena jejaring sosial terbesar ini disalahkan atas banyaknya berita palsu yang ramai beredar sebelumnya.

Perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg, selalu menekankan bahwa meredam peredaran berita palsu telah menjadi prioritas mereka, tetapi sejauh ini belum ada langkah berani yang dilakukan oleh Facebook.

Saat portal berita yang memiliki kredibilitas, maupun situs yang dengan sengaja memproduksi berita hoax, mengandalkan facebook untuk distribusi konten. Facebook benar-benar harus membatasi praktik baru kepada akun atau halaman yang memiliki reputasi baik, agar kebijakan baru tidak mempengaruhi penerbit atau portal berita yang kontennya dijamin akurat.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon